Tak banyak minta hati ini. Cuma minta kesabaran dan kekuatan yang tiada batasnya saja. Semakin tinggi pohon yang ku panjat, semakin kuat angin menerpa agarku terjatuh, lalu terhempas berkeping-keping. Sungguh cobaan apalagi yang Engkau berikan kepadaku ya Robb.
Sangat berat, batinku menopang ini sendirian. Sungguh, bukan main-main cobaan-Mu kali ini.
Kerap kali ku ingin menyerah, dan seperti ingin turun saja dari pohon itu.
Dan ketika ku melihat ke arah bawah, ku lihat wajah kedua orangtuaku. Ku pandangi wajah mereka sejenak, tak rela rasanya jika ku menyerah sampai disini saja.
Perlahan ku coba mendaki lagi, lagi, lagi dan lagi. Sungguh, hantaman halilintar yang hampir menyambarku pada saat itu. Sangat menggoyahkan semangatku agar langkahku terhenti dan menyerah saja.
Ku pandangi lagi ke arah bawah. Ku melihat, ada orang-orang yang ku sayangi tepat di bawahku. Terlihat dari raut wajah mereka, yang tak inginkan ku berhenti sampai disini saja.
Ku coba pertahankan, kuatkan dan mantapkan langkah ini. Untuk lebih jauh lagi, menggapai puncak.
Saat ku melihat ke atas, sungguh ku melihat setitik cahaya yang kilauannya tak tertandingi dari kilauan intan permata, dan sejuta buah-buah yang sangat indah dari pohon yang ku daki ini.
Ku percaya, cahaya yang sangat indah itu adalah pertolongan-Mu ya Robb.
Dan sejuta buah itu adalah hadiah terindah dari kesabaran dan kekuatan yang ku jalani sekarang.
Jika ku kuat, ku pasti sampai ke puncak itu dan menikmati hasil buah yang ku perjuangkan bersama orang-orang yang selalu mensuportku dari bawah.
Tapi, jika ku menyerah. Sampai kapanpun buah itu tidak akan pernah menjadi milikku.
Hidayanti, 25 Januari 2016 (23:41 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar